Tampilkan postingan dengan label WISATA ALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA ALAM. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Maret 2015
Tanjung Keluang
Pengantar
Taman Wisata Alam Tanjung Keluang secara
geografis terletak berada di 111°42” – 111°45” BT dan 3°42” – 3°55” LS,
sedangkan untuk administrasi pemerintahan berada di Desa Kubu, Kecamatan
Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah, dengan luas + 2.000 ha. Termasuk
tipe ekosistem pantai dengan hamparan pasir putih dan laut yang tenang,
adanya tumbuhan cemara khas pantai dan mangrove merupakan panorama yang
indah.
Tumbuhan
yang membentuk sabuk hijau bervariasi dari golongan mangrove sejati
(bakau, pidada, api-api, nipah, nirih) dan non sejati (seperti pandan
laut, bogem, cemara laut, kelapa) serta tumbuhan formasi pescarpae,
seperti katang-katang, kacang laut, rumput teki, rumput gulung yang
diselingi tanaman pionir dan tumbuhan dari ciri ekosistem lain. Secara
umum iklim di Kab. Kotawaringin Barat beriklim tropis yang dipengaruhi
oleh musim kemarau / kering dan musim hujan. Musim kemarau pada bulan
Juni sampai dengan September sedangkan musim penghujan antara bulan
Oktober sampai dengan Mei. Curah hujan tahunan berkisar 32,505 mm. Suhu
maksimum berkisar 31,1º C dan suhu minimum sekitar 22,0º C. Dengan kelembaban udara sekitar 87,08%.
Potensi Wisata
Pantai
Tanjung Keluang terbentuk dari hamparan pasir putih bersih dengan laut
tenang, sangat cocok untuk berenang dan berjemur sambil menikmati pesona
pantai yang khas, juga dapat dikembangkan sebagai lokasi pemancingan
laut. Pantai ini langsung menghadap ke Laut Jawa, pantai ini jauh dari
keramaian sehingga wisatawan yang mendambakan ketenangan dan keheningan
alam akan dapat menjumpainya di tempai ini. Kawasan ini apabila
dikembangkan memiliki potensi wisata pantai yang menarik, merupakan
tujuan alternatif wisata alam setelah TN Tanjung Puting. Potensi
pengunjung sangat tinggi terutama pada hari minggu atau hari libur.
Pengunjung di daerah wisata Bugam Raya biasanya juga melanjutkan
kunjungan mereka menuju Tanjung Keluang, tapi mereka hanya membayar
retibusi untuk masuk daerah wisata Bugam Raya saja, untuk TWA Tanjung
Keluang belum ada penarikan retribusi. Dalam pengelolaannya, staf SKW II yang ditugaskan tidak dapat maksimal sehubungan karena kendala transportasi fasilitas di dalam kawasan.
Cara Mencapai Lokasi
- Jakarta – Pangkalan Bun atau Semarang – Pangkalan Bun dapat dengan penerbangan komersil.
- Dilanjutkan dengan kendaraan darat selama ± 30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil, jarak dari kota Pangkalan Bun ke lokasi (Desa Kubu) ± 30 km.
- Dari Pantai Kubu dilanjutkan dengan kendaraan air (klotok) ± 15 menit.
Taman Nasional Tanjung Puting
A. Pengantar
B. Objek Wisata TNTP
Lokasi dan obyek wisata Taman Nasional Tanjung Puting
(TNTP) yang banyak di kunjungi,
diantaranya adalah :
a.
Tanjung
Harapan
Tanjung
Harapan merupakan pintu masuk kawasan TNTP dari sebelah barat melewati Kumai.
Wilayah ini merupakan juga zona pemanfaatan yang dikembangkan untuk kegiatan
wisata alam yang dilengkapi dengan pusat informasi, wisma tamu, hotel dan
menara pengintai. Daerah ini memiliki
potensi wisata berupa :
- Jalur Tracking Tanjung Harapan – Pondok Tanggui sejauh 22 Km yang melintasi berbagai tipe hutan yang ada di TNTP.
- Demplot tanaman obat dan anggrek
- Bird Watching
- River Crusing sambil menyaksikan berbagai jenis primata di tepian Sungai Sekonyer seperti Bekantan (Nasalis larvatus) dan Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
b.
Pesalat
dan Beguruh
c.
Pondok
Tanggui
Wilayah ini merupakan zona pemanfaatan khusus
untuk rehabilitasi Orangutan remaja dan semi liar. Lokasi rehabilitasi
Orangutan di TNTP ini merupakan daya tarik tersendiri karena pada jam-jam
tertentu dilakukan atraksi pemberian makan (Feeding)
kepada Orang utan.
d.
Camp
Leakey
Camp Leakey merupakan zona pemanfaatan khusus
yang menjadi tempat penelitian serta rehabilitasi Orang utan dewasa. Pada awalnya merupakan lokasi penelitian
mahasiswa bernama Birute M.F Galdikas pada tahun 1971 yang didukung oleh
Direktorat PPA (Ditjen PHKA saat ini) cocok sebagai tempat kunjungan wisata
singkat untuk melihat Orangutan rehabilitan baik yang sudah liar maupun semi
liar. Tempat ini juga juga
seringkali didatangi kru-kru film dari dalam dan luar negeri untuk dijadikan
lokasi pengambilan film dokumenter mengenai Orang utan dan Hutan Kalimantan.
Rehabilitasi/Peliaran Orangutan hasil kerjasama Ditjen PHKA dengan OFI yang
dipimpin oleh Prof. Dr. Birute M.F Galdikas, melalui kegiatan feeding yang pada
awalnya sebagai pakan tambahan bagi Orangutan rehabilitan hasil sitaan /
penyerahan dari masyarakat, agar bisa survive dengan mengandalkan suplay
makanan di alam aslinya, dalam perkembangannya ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan,
oleh karena itu KEGIATAN FEEDING bagi orangutan
tetap berlangsung sampai saat ini dan merupakan
atraksi utama dari Camp Leakey.
Di wilayah ini juga terdapat jalur Tracking
untuk melihat vegetasi hutan sekunder
dataran rendah kalimantan. River Cruising
secara langsung menyertai awal perjalanan menuju Camp Leakey dengan melintasi sungai sekonyer kanan yang berwarna
hitam jernih.
e.
Pondok
Ambung
Pondok Ambung merupakan stasiun riset untuk
penelitian berbagai flora dan fauna pada semua tipe habitat yang terdapat di TNTP.
Banyak peneliti dari dalam negeri maupun luar negeri melakukan penelitian di
tempat ini, diantaranya penelitian tentang Buaya Sapit (Tomistoma Schelegelii), Bekantan (Nasalis larvatus), berbagai jenis ular dan satwa lainnya.
f.
Sungai
Buluh Besar dan Sungai Buluh Kecil.
Sungai Buluh Besar dan Kecil masuk ke dalam
zone pemanfaatan terbatas yang mempunyai panorama alam yang sangat indah,
apalagi menjelang matahari terbenam. Disini masih terdapat Orang utan liar dan
sangat cocok untuk kegiatan pengamatan burung (Bird Watching). Akses menuju
tempat ini agak sulit karena harus melewati laut yang perlu diperhitungkan
gelombangnya. Untuk berkunjung ke tempat ini disarankan pada musim kemarau
yaitu antara bulan juni-september.
g.
Sungai
Sekonyer
Potensi wisata yang ada di TNTP tidak
didukung oleh kondisi Sungai Sekonyer yang merupakan pintu masuk wisatawan dari
Pangkalan Bun karena tercemar limbah penambangan emas/ puya di hulu sungai. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Maria T. Indarwati dkk dari Program Studi Ilmu
Lingkungan, Universitas Udayana tahun 2007 menunjukkan bahwa Kondisi Sungai
Sekonyer dari hulu sampai hilir tercemar akibat logam berat. Logam berat yang berpotensi mencemari Sungai Sekonyer
adalah : Seng, Kadmium, Tembaga dan Merkuri.
D. Akses Menuju Obyek Wisata Alam
Untuk
menuju Taman Nasional Tanjung Puting bisa ditempuh melalui beberapa alternatif
diantaranya :
a. Melalui
Pangkalan Bun
Pangkalan bun merupakan ibukota Kabupaten
Kotawaringin Barat memiliki Bandar Udara Iskandar yang dilalui penerbangan
langsung dari Jakarta maupun Semarang. Maskapai yang melakukan penerbangan ke
Pangkalan Bun diantaranya : Trigana Air, Kalstar, Merpati.
b. Melalui
Palangkaraya
Palangkaraya merupakan
ibukota Propinsi Kalimantan Tengah yang banyak dilalui penerbangan langsung
dari berbagai kota besar di Indonesia sepeti Jakarta, Semarang, Surabaya.
Maskapai yang melakukan penerbangan langsung ke Palangkaraya diantaranya adalah
Garuda Indonesia, Lion Air, Batavia air, Sriwijaya Air, Merpati. Dari
Palangkaraya menuju Pangkalan Bun bisa ditempuh melalui perjalanan darat selama
± 10 jam.
Dari Kota Pangkalan Bun ini perjalanan
dilanjutkan menuju Kumai yang
ditempuh dengan taksi umum atau mobil carteran selama ± 30 menit. Kumai
merupakan kota pelabuhan yang juga melayani rute perjalanan laut menuju
Semarang dan Surabaya menggunakan kapal laut.
Setelah
sampai di Kecamatan Kumai, menuju Taman Nasional Tanjung Puting, transportasi
yang bisa digunakan ada dua macam yakni klotok dan speed boat. Klotok
untuk pengunjung yang lebih menginginkan perjalanan yang santai dan lebih
menikmati panorama alam. Speed boat
untuk pengunjung yang ingin langsung
menuju obyek utama. Perjalanan wisata
yang dapat ditempuh oleh pengunjung untuk menikmati objek-objek wisata yang ada
ditaman nasional tanjung puting adalah dengan rute sbb :
- Kumai—Tanjung Harapan (20 km), membutuhkan waktu tempuh 0,5 jam dengan menggunakan speed boad dan 1,5 jam dengan menggunakan klotok.
- Kumai—Pesalat (23 km), membutuhkan waktu tempuh 35 menit dengan menggunakan speed boat dan 1 jam 45 menit dengan menggunakan klotok.
- Kumai—Pondok Tanggui (30 km), membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan speed boat dan 3 jam dengan menggunakan klotok.
- Kumai—Camp Leakey (40 km), membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan menggunakan speed boat dan 4 Jam dengan menggunakan klotok.
Langganan:
Postingan (Atom)



